Luncurkan Buku “Dari Norma ke Praktik” Puadi Tegaskan Peran Etis Bawaslu Menjaga Demokrasi Elektoral
|
Jakarta - Anggota Badan Pengawas Pemilihan Umum (Bawaslu) Puadi meluncurkan buku seri keempat berjudul Dari Norma ke Praktik: Peran Strategis Bawaslu dalam Memperkuat Demokrasi Elektoral di Jakarta, Rabu (14/1/2026). Buku tersebut lahir dari kegelisahan penulis terhadap praktik demokrasi elektoral yang kian prosedural dan kompleks, namun pada saat yang sama semakin rentan mengalami distorsi nilai.
Puadi menjelaskan, salah satu tesis utama dalam buku ini adalah bahwa norma hukum tanpa kesadaran etis berpotensi menjadi sekadar teks yang kehilangan makna. Oleh karena itu, pengawas pemilu dituntut memiliki keberanian moral dalam menghadapi berbagai tekanan kekuasaan yang dapat menggerus integritas demokrasi.
“Pengawas pemilu adalah penjaga nurani demokrasi. Demokrasi tidak akan runtuh karena kekurangan aturan, tetapi karena kekurangan integritas,” tegas Puadi.
Ia menambahkan, pengawasan pemilu tidak lagi cukup dipahami sebagai fungsi administratif semata. Lebih dari itu, pengawasan pemilu harus dimaknai sebagai fungsi etis, fungsi konstitusional, sekaligus fungsi moral dalam menjaga martabat kedaulatan rakyat. Menurutnya, pengawasan pemilu berada di jantung dialektika antara kekuasaan dan moralitas publik.
Puadi menegaskan, Bawaslu bukan sekadar institusi teknokratis, melainkan aktor etis yang berdiri di antara kehendak rakyat dan godaan kekuasaan.
“Inilah posisi filosofis yang menjadi benang merah seluruh buku ini, bahwa demokrasi tidak cukup ditopang oleh aturan, tetapi harus dijaga oleh nurani kelembagaan,” ujarnya.
Buku Dari Norma ke Praktik disusun dalam tujuh bab yang mengulas pengawasan pemilu dari perspektif normatif, historis, hingga praktik di lapangan. Bab pertama menempatkan pengawasan pemilu sebagai pilar demokrasi berintegritas, bukan sekadar instrumen pengendali prosedur.
Pada bab kedua, pengawasan pemilu dikaitkan dengan prinsip pemilu demokratis dan berintegritas, dengan merujuk pada pemikiran para ilmuwan politik seperti Robert A. Dahl, Samuel P. Huntington, dan Larry Diamond. Bab ketiga memetakan evolusi pengawasan pemilu di Indonesia sejak era pra-reformasi hingga pasca-reformasi.
Bab keempat mengulas strategi Bawaslu dalam pengawasan pemilu, sementara bab kelima membahas berbagai tantangan pengawasan, mulai dari politik identitas, politik uang, politik intimidasi, hingga politik kekuasaan.
Selanjutnya, pada bab enam dan tujuh, Puadi menawarkan gagasan inovasi dan reformasi pengawasan pemilu melalui penguatan partisipasi publik, digitalisasi pengawasan, serta peneguhan peran Bawaslu sebagai penjaga nilai-nilai demokrasi.
Puadi berharap buku ini dapat menjadi rujukan akademik, refleksi kelembagaan, sekaligus bahan kontemplasi bagi para pengawas pemilu di seluruh Indonesia dalam upaya memperkuat demokrasi elektoral yang berintegritas.
Sebagai informasi, buku ini merupakan seri keempat yang lahir dari tesis Puadi. Adapun seri pertama berjudul Dinamika Pengawas Pemilu: Dinamika Peran Bawaslu dan Interaksi Kepentingan, seri kedua Pertarungan Kepentingan: Interaksi Antar Aktor dalam Pengawasan Pemilu, dan seri ketiga Problematika Data dan Daftar Pemilih.
Penulis: Marwan's
Foto: Dok. Bawaslu RI
Sumber: Bawaslu RI